Dr. SILAHUDDIN

Pengalaman bekerja di perusahaan kebun sawit | 21 September 2012

Sekitar 3,5 tahun saya bekerja di sebuah perusahaan kebun sawit. Suka dan duka silih berganti mengiringi. Banyak hal yang sudah terjadi dalam waktu yang tidak terlalu lama tersebut. Banyak pelajaran yang bisa saya ambil. Tapi, hanya satu hal yang ingin saya bagikan kepada Anda. Bukan tentang situasi pelayanan kesehatan di sana, juga bukan tentang kebijakan perusahaan terhadap karyawan, bukan pula tentang tetek bengek perawatan dan pengolahan kelapa sawit itu sendiri. Saya menyoroti dari sisi agama. Tentang bagaimana seorang pekerja sawit yang muslim bisa beristiqamah menjalankan kewajiban agamanya.

Saya mengkhususkan sharing dari pengalaman bekerja di perusahaan sawit karena ada keunikan sendiri, yang membuat situasinya berbeda dengan di perusahaan yang lainnya. Tentunya dengan keterbatasan pengalaman penulis, banyak analisa yang terkesan masih dangkal dan hanya permukaan. Tapi anggap saja itu bukan sesuatu yang besar, dibanding beberapa pesan yang terurai dari tulisan ini.

Mungkin ada yang menganggap hal ini berlebihan, membesarkan suatu yang kecil. Tapi bagi saya, setiap ada potensi mengganggu keistiqomahan saya, maka hal itu adalah masalah besar. Apalagi levelnya bukan individu tapi sebuah lingkungan. Lingkungan pekerjaan tempat kita menemukan pundi-pundi uang. Tempat yang membuat kita bangga mungkin.

Bagi mereka yang sedang dan mungkin punya rencana untuk bekerja di perkebunan dalam skala industri baik di kelapa sawit, karet, teh, kopi atau yang lainnya, dan tidak ingin terlarut dalam rutinitas pekerjaan yang akan membawanya untuk lupa akan tugas ibadahnya dan tugas dakwahnya, sangat diperlukan strategi khusus dan trik-trik khusus.

Berdasarkan pengalaman nih. Banyak tuh, staf yang muslim tapi lupa sholat. Jangankan di masjid, sholat di rumah pun, jarang bahkan hampir tidak pernah. Kedua, kalau di kebun yang jauh dari kota, apalagi bagi yang tidak mengajak kelurga, suasanannya sepi dan temannya ya itu-itu saja. Kesepian itu tidak sebentar lho. Paling cepat 3 bulan baru bisa pulang kembali bertemu anak dan istri. Sehingga, banyak kabar adanya perselingkuhan. Ketiga, sulit untuk menambah ilmu agama karena jarak yang jauh tadi dan skedul kerja yang tidak bersahabat.

Nah, logis khan jika kita mudah untuk terbawa arus dan mudah terkikis iman kita!

Oleh karenanya dibutuhkan strategi khusus untuk menghindari terkikisnya iman kita. Mudah-mudahkan beberapa saran berikut bermanfaat, diantaranya:

  • Komitmen Untuk Tetap Semangat Beribadah dan Berdakwah

Komitmen berati berpegang teguh dan bertekad kuat disertai dengan tindakan nyata untuk tetap berada pada jalur yang telah direncanakan. Menjalani hari demi hari dengan berpegang keyakinan bahwa akan dimintai pertanggungjawaban oleh Alloh atas apa yang telah dilakukan. Sadar dengan sesadar-sadarnya bahwa tidak hanya atasan dan kolega yang akan mengevaluasi kinerja kita, tapi Alloh lebih tahu bahkan yang tersembunyi dari manusia sekalipun. Sehingga yang ditonjolkan adalah sikap dan perilaku yang jujur, amanah dan penuh kesungguhan.

Lebih takut kepada Alloh daripada kepada atasan. Menjauhkan diri dari mental Asal Bapak Senang. Berpegang dengan apa yang disepakati dari kontrak kerjanya, tidak tergoda untuk keluar darinya walaupun banyak kolega melakukannya. Senatiasa mengambil waktu yang cukup untuk pengabdian pada Rabbnya. Tepat waktu sholatnya. Tidak lupa kalam Tuhannya untuk selalu dihiaskan pada kedua bibirnya. Diatas pundaknya, ia sadar bahwa sedikit ilmu yang ada padanya harus di-share kepada sesama. Menjadi sebab bagi orang lain untuk mendapatkan hidayah adalah senantiasa menguasai pikirannya. Berpikir tentang kondisi muslimin di kebun, tidak pernah lepas dari lobus otaknya.

Pengaruh pergaulan dengan kolega dan segala hal di dalam lingkungan perkebunan, bisa jadi akan membelokkan dia dari apa yang seharusnya yang menjadi tugas utamanya. Tentu hal tersebut bisa terjadi hanya jika tidak adanya komitmen untuk tetap di atas keimanan.

  • Skedul Pribadi Yang Jelas

Memulai dengan membuat jadwal pribadi yang jelas, harian, mingguan atau bulanan. Jadwal tentunya disesuaikan dengan apa yang menjadi prioritasnya. Walau nantinya banyak melesetnya, setidaknya kontrol terhadap aktivitas keseharian tertulis dengan jelas. Yang lebih penting adalah mendidik dan membiasakan jiwa untuk tunduk dengan jadwal yang sudah dibuat. Apa gunanya jadwal kalau kita malas melakukan. Tapi, jangan membuat jadwal yang terlalu tinggi yang tidak mungkin bisa diwujudkan. Jadwal seyogyanya wajar dan sesuai kemampuan.

  • Seimbang Antara Bekerja dan Beribadah

Berada di tengah kebun, tujuan utamanya adalah bekerja. Tapi, bukan berarti seluruh waktu dan pikirannya dihabiskan untuk keperluan kantor dan melayani kepentingan perusahaan. Jika demikian, tentu akan sangat rugi sekali. Karena tujuan utama keberadaan kita di atas bumi Alloh ini adalah untuk memberikan pengabdian kita kepada yang punya bumi dan bahkan yang secara hakiki memiliki hidup kita. Sehingga adalah sebuah keharusan, bila kita meluangkan banyak waktu untuk BERIBADAH dan memakmurkan tempat-tempat peribadahan (masjid/musholla). Sholat 5 waktu di masjid harus jadi prioritas, kecuali pada kondisi-kondisi yang tidak memungkinkan. Walau matahari menyengat, minimal 5 kali kita padamkan dengan air wudlu. Walau dingin menggigit, kita hangatkan dengan dzikir di waktu shubuh.

Tidak ada yang ketiga setelah bekerja dan ibadah kecuali keluarga. Ya, yang keluarganya jauh, didekatkan di telinga dan hatinya. Jauh di mata namun dekat di hati dan telinga. Tiada pada dirinya kamus perselingkuhan. Apalagi sesama kolega. DOSA BESAR dan TIDAK BERMUTU.

Apalah gunanya nafsu menggebu, tapi ujungnya adalah MALU. Padahal yang seharusnya adalah tiada nafsu kecuali pada kekasih hati, sang istri.

Kolega adalah teman. Kadang bekerja bersama, saling tukang informasi  dan bahkan kadang adalah tempat curahan hati. Saling mengisi dan saling menolong dalam kebenaran adalah hakikat pertemanan. Teman, tempat mendulang manfaat dan memperoleh keutamaan.

  • Kreatif dan Fokus

Pekerjaan yang monoton akan cepat membuat bosan. Kebosanan membuat konsentrasi tidak penuh. Imbasnya tentunya kualitas hasil pekerjaan kita. Jika sudah bosan dengan yang monoton, cari sesuatu yang beda. Tapi tetap fokus pada kualitas hasil pekerjaan. Kedua, cari suatu kesibukan baru di luar pekerjaan yang bermanfaat. Jika kita berusaha mencari, insyaAlloh dapat. Pun jika kita tidak mendapatkan sesuatu yang baru, pencarian kita sendiri merupakan suatu bentuk lepasnya kita dari kebosanan.

Wallohu a’lam.

Iklan

Tinggalkan sebuah Komentar »

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: