Dr. SILAHUDDIN

ISPA (Infeksi Saluran Pernafasan Akut) Pada Anak | 21 September 2012

ISPA terdiri dari infeksi saluran napas atas dan infeksi saluran napas bawah. Infeksi saluran nafas atas terdiri dari: Rhinitis (common cold), sinusitis, pharingitis, epiglotitis, laringitis dan otitis media. Sedangkan infeksi saluran napas bawah terdiri dari: bronkitis, bronkiolitis dan pneumonia. Manifestinya tidak hanya terbatas pada organ pernafasan tapi bisa berefek secara sistemik oleh karena potensi perkembangan infeksi atau toxin bakteri, peradangan dan berkurangnya fungsi paru.

Kecuali selama masa perinatal, ISPA paling sering menyebabkan kesakitan dan kematian pada anak di bawah usia 5 tahun. Meskipun perawatan secara medis dapat meredakan keparahan dan fatalitas sampai taraf tertentu,  dalam banyak kejadian, infeksi saluran pernapasan bawah tidak berrespon terhadap pengobatan. Sebagian besar oleh karena ketiadaan obat anti virus yang punya efektifitas tinggi. Bahkan, WHO memperkirakan bahwa 2 juta anak yang berusia di bawah 5 tahun meninggal karena pneumonia tiap tahunnya (Bryce and others 2005).

 Infeksi  Saluran Napas Atas

Merupakan penyakit infeksi yang paling umum. Sebagian besar penyebabnya adalah virus. Rhinovirus 25 – 30%, respiratory syncytial virus (RSVs), parainfluenza dan influenza virus, human metapneumo virus dan adeno virus 25 – 35%. Corona virus 10% dan sisanya virus yang belum teridentifikasi. Karena sebagian besar infeksi saluran nafas atas ini adalah bisa sembuh sendiri, maka penanganan komplikasi akan menjadi lebih penting dari pada infeksi itu sendiri. Infeksi virus akut dapat memberi kecenderungan terhadap anak untuk terjadinya infeksi bakteri pada sinus dan telinga tengah. Tertelannya sekret dan sel yang terinfeksi dapat menyebabkan terjading infeksi saluran napas bawah.

  • Faringitis Akut

70 persen pharingitis akut disebabkan oleh virus pada anak usia muda. Infeksi streptokokus jarang terjadi pada anak di bawah usia 5 tahun, tapi lebih sering pada yang lebih 5 tahun. Gejala khasnya adalah kemerahan dan pembengkakan yang ringan pada faring serta pembesaran tonsil. Seringkali disertai dengan rhinitis, tonsilitis ataupun laringitis.Di negara dengan kondisi kehidupan dan populasi yang padat, yang mempunyai predisposisi genetik, gejala sisa setelah infeksi streptokokus seperti demam reumatik akut dan karditis adalah umum terjadi pada anak pra dan usia sekolah.

  • Otitis Media Akut

Otitis media akut terjadi hingga 30 % pada infeksi saluran nafas akut. Di negara berkembang yang pelayanan medisnya tidak adekuat, penyakit ini mugkin yang berperan terjadinya perforasi kendang telinga atau ketulian. Infeksi telinga yang berulang dapat menyebabkan mastoiditis yang pada gilirannya dapat menyebarkan infeksi ke meningen (selaput otak). Otitis media ini disebabkan oleh terbuntunya saluran tuba eustachius oleh karena rinitis dan bisa juga karena alergi. Gejalanya ditandai dengan adanya peradangan lokal, otorrhea, otalgia, demam dan bisa juga malaise. Oleh karena akumulasi mukus dan cairan sebagai akibat dari odema pada tuba eustachius, bakteri dapat menginfeksi pula. Yang paling sering menyerang anak-anak adalah bakteri streptokokus pneumoniae, haemophilus influenzae, dan moraxella catharralis.

  • Sinusitis

Sinusitis adalah infeksi pada mukosa rongga sinus paranasal. Dengan gejala hidung tersumbat, sekret dari hidung yang kental jernih atau berwarna, berbau, nyeri  tekan pada daerah wajah atau pipi, bisa disertai batuk, demam tinggi, nyeri kepala dan malaise. Terjadinya bisa akut yang berlangsung kurang dari 30 hari, sub akut yang berlangsung antara 30 hari  sampai dengan 6 minggu, dan  kronis jika berlangsung lebih dari 6 minggu. Penyebab bisa oleh karena bakteri, virus atau penyebab yang lain, seperti: polip, alergi, infeksi gigi serta tumor. Bakteri penyebab yang paling sering adalah streptokokus pneumoniae, haemophilus  influenzae, dan moraxella catharralis. Ditularkan lewat kontak langsung dengan penderita melalui udara. Dan seharusnya dapat dicegah dengan pemakaian masker serta cuci tangan sebelum dan sesudah kontak dengan penderita.

 Infeksi  Saluran Napas Bawah

Infeksi saluran napas bawah yang paling sering terjadi adalah pneumonia dan bronchiolitis. Frekuensi napas adalah tanda klinis yang bernilai pada anak dengan batuk dan napas yang cepat. Adanya tarikan kedalam dari dada bawah menunjukkan adanya penyakit yang berat. Penyebab paling sering adalah respiratory syncytial virus (RSVs) yang berifat cenderung sangat musiman, berbeda dengan parainfluenza virus (penyebab yang paling umum untuk waktu yang akan datang).

  • Pneumonia

Penyebabnya bisa virus dan bakteri. Pneumonia bakteri disebabkan oleh streptococcus pneumoniae (pneumococcus) atau haemophilus influenzae sebagian besar tipe b (Hib) dan kadang staphylococcus aureus atau streptococcus yang lain. Sedangkan patogen yang lain seperti mycoplasma pneumoniae dan clamydia pneumoniae menyebabkan pneumonia atipik. Pemeriksaan baku sebagai gold standar untuk mengetahui pneumonia bakteri adalah dengan kultur bakteri dari aspirasi paru. Sedangkan kultur faring tidak sensitive.

Perbaikan kondisi secara klinis dan radiologis dari pneumonia dalam sebuah uji klinis dengan vaksin konjugasi pneumokokus 9 valent, mengestimasikan tentang problematika penyakit yang dapat dicegah dengan vaksinasi. Sebuah studi di Gambia menunjukkan bahwa 37 % kasus pneumonia radiologis dapat dicegah dan dapat mengurangi angka kematian sampai 16%.

Kolonisasi dari organisme yang berpotensi patogen dari saluran napas atas serta aspirasi dari sekret yang terkontaminasi telah dapat menyimpulkan bagaimana patogenesis pneumonia bakteri pada anak-anak. Infeksi saluran napas atas oleh virus influenza atau RCVs dapat menyebabkan peningkatan kemampuan lapisan sel nasofaring untuk mengikat H. Influenzae dan S. Pneumoniae. Hal ini mungkin bisa menjelaskan tentang kenaikan angka pneumonia pneumokokus yang beriringan  dengan kejadian epidemi  influenza dan RCV.

Di negara berkembang, pada bayi dan anak yang dirawat di rumah sakit oleh karena pneumonia, 40 – 50%  penyebabnya adalah virus. Membedakan secara radiologis antara pneumonia virus dan bakteri adalah sulit. Satu sisi, memang ada kemiripan. Sisi yang lain, setiap infeksi virus influenza, RCVs, dan measles, sering terjadi superinfeksi oleh bakteri.

  • Bronkiolitis

Adalah terjadinya obstruksi karena peradangan pada saluran napas kecil yang bisa menyebabkan hiperventilasi paru dan kolapnya sebagian segmen. Bronkiolitis sebagian besar terjadi pada tahun pertama kehidupan. Menurun pada tahun kedua dan ketiga. Gambaran klinis nya adalah adanya pernafasan cepat, tarikan dada bawah dan wheezing. Oleh karena tampilan klinis sama dengan karekteristik pneumonia, maka membedakannya menjadi sulit. Dua hal yang dapat membantu adalah identifikasi berlangsungnya musim RCVs di lingkungan sekitar dan keahlian dalam menentukan adanya wheezing. RCVs adalah penyebab utama bronkiolitis di seluruh dunia, hampir 70-80% jika pada high season. Penyebab lainnya bisa human metapneumovirus (gejala hampir sama dengan RCVs), dan virus parainfluenza tipe 3 serta virus influenza.

Intervensi

Intervensi  untuk mengendalikan ISPA terbagi menjadi 4 dasar:

Vaksinasi terhadap patogen khusus, diagnosa dan pengobatan dini terhadap penyakit, Perbaikan nutrisi serta lingkungan yang lebih aman.

Vaksinasi

Penggunaan secara luas vaksinasi terhadap diphteri, campak, pertussis, Hib, pneumokokus, dan influenza telah terbukti mempunyai potensi secara substansial mengurangi insiden ISPA di negara-negara berkembang.

  • Vaksin Hib

Akhir-akhir ini telah tersedia vaksin konjugasi 3 Hib yang digunakan untuk bayi dan anak-anak. Efikasi vaksin ini dalam upaya pencegahan penyakit invasif (utamanya meningitis, tapi bisa juga pneumonia) telah terdokumentasikan dengan baik di negara-negara industri. Semua study menggambarkan tentang efikasi protektif terhadap penyakit invasif yang terkonfirmasi laboratorium tanpa tergantung dengan pilihan vaksinnya. Konsekuensinya, negara-negara industri telah memasukkan vaksin Hib ini dalam program imunisasai nasional mereka.

  • Vaksin Pneumokokus

Sekarang ini telah tersedia 2 macam vaksin pneumokokus yakni vaksin polisakarida 23 valent yang lebih cocok untuk dewasa dari pada anak dan vaksin polisakarida protein konjugasi 7 valent. Walaupun beberapa penelitian di negara industri masih menunjukkan hasil yang kontroversi. Efikasi vaksin ini lebih bernilai terhadap anak yang lebih dari 2 tahun dari pada yang kurang. Para peneliti menyimpulkan berdasarkan penelitian yang mengevaluasi efikasi vaksin polisakarida ini pada anak-anak, bahwa vaksin ini mempunyai pengaruh terhadap pneumonia berat. Vaksin ini juga mungkin berguna untuk kasus infeksi telinga di negara-negara berkembang yang seringkali dijumpai kasus otitis media kronis dan tuli konduksi.

Menejemen Kasus

            Penyederhanaan dan sistematisasi menejemen kasus untuk diagnosa dan pengobatan dini ISPA telah memungkinkan adanya penurunan kasus kematian di negara-negara berkembang di mana terdapat keterbatasan akses ke dokter spesialis anak. Panduan klinis WHO untuk menejemen kasus ISPA memakai 2 tanda :

  • Pernapasan cepat
  • Tarikan dinding dada bawah

Pernapasan cepat – sama dengan atau lebih dari 50 x permenit untuk bayi usia 2 – 11 bulan, sama dengan atau lebih dari 40 x permenit untuk anak usia 1-5 tahun – membedakan pneumonia dengan yang bukan pneumonia. Tarikan dinding dada bawah ketika inspirasi, membedakan pneumonia berat yang mengharuskan untuk dirujuk ke rumah sakit dengan yang tidak.

Tanpa adanya dua tanda tersebut, dianggap hanya ISPA biasa. Adanya pernafasan cepat saja, hanya membutuhkan perawatan pneumonia rawat jalan dengan antibiotika.

Pemilihan antibiotika berdasarkan hasil temuan kuat bahwa kebanyakan penyebab pneumonia bakteri pada anak-anak adalah  S. Pneumoniae atau H. Influenza. Berdasarkan adanya data-data resistensi terhadap penicillin dan cotrimoxazole, Amoxicillin dengan dosis lebih besar dari pemberian sebelumnya, menjadi pilihan yang paling baik dibanding penicillin dan cotrimoxazole untuk kasus bukan pneumonia berat.

Untuk pneumonia berat, direkomendasikan oleh WHO untuk menggunakan chloramphenicol succinate intra muskular ½ dosis harian sebelum merujuk pasien. Hal ini berdasarkan pertimbangan kedaruratan, efek samping anemia aplastik yang sangat jarang pada pemberian chloramphenicol pada anak-anak dan tidak adanya bukti bahwa intra muskular chloramphenicol succinat lebih berbahaya dari preparat dan rute pemberian yang lain dan karena efikasinya telah diterima secara luas secara klinis. Pemberian oksigen pada pasien pneumonia berat sangatlah dibutuhkan bagi mereka yang hipoxemia. Karena bila terjadi hipoxemia, kemungkinan akan meningkatkan resiko kematian 1,2 – 4,6 kali. Jika persediaan oksigen cukup, setiap kasus pneumonia berat, direkomendasikan pemberian oksigen 0.5 liter permenit bagi usia kurang dari 2 bulan, 1 liter pemenit bagi yang diatas 2 bulan. Tapi jika persediaan terbatas, oksigen diberikan pada yang mengalami tachipnea lebih dari 70 x permenit atau dengan retraksi dada bawah yang sangat.

Rujukan:

  1. Eric A.F Simous, Thomas Cherian,Jefry Chow, and Others. ‘Acute Respiratory Infection in Children’.Dasease Control Priorities in developing countries (25): 484 – 495.
  2. Direktorat Bina Farmasi Komunitas dan Klinik, Bina Kefarmasian dan Alat kesehatan, depatemen Kesehatan RI 2005, ‘Pharmaceutical care untuk Penyakit Infeksi Saluran Pernafasan’.
Iklan

2 Komentar »

  1. Great post. I was checking constantly this blog and I’m impressed! Extremely helpful info particularly the last part 🙂 I care for such info much. I was seeking this particular info for a very long time. Thank you and good luck.

    Komentar oleh celebrities — 5 Agustus 2013 @ 11:13 pm

  2. What’s Happening i’m new to this, I stumbled upon this I’ve found It positively helpful and it has aided me out loads. I hope to give a contribution & help different customers like its helped me. Good job.

    Komentar oleh hearttechnology.com — 12 Mei 2013 @ 2:20 pm


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: