Dr. SILAHUDDIN

Herbal? Belum Cukup! | 15 Desember 2012

herbalMESKI dikenal aman karena tidak mengandung bahan kimia, obat-obatan herbal sebaiknya hanya dijadikan pelengkap, bukan pengganti pengobatan konvensional. Masih butuh waktu lama dan riset yang mendalam untuk menjadikan obat herbal sebagai obat utama penyakit, termasuk kanker.
Meroketnya pengobatan herbal dengan menggunakan tumbuh-tumbuhan alami, terutama dalam pengobatan penyakit kanker, membuat masyarakat semakin mengesampingkan kedokteran konvensional. Banyak alasan yang menyebabkan hal tersebut. Menurunnya kepercayaan masyarakat akan profesionalitas tenaga medis serta tidak terjangkaunya layanan kesehatan modern adalah salah satu di antaranya.
Apalagi obat herbal terkenal lebih aman karena tanpa menggunakan bahan kimia dan tidak menyebabkan rasa sakit dibandingkan perawatan kanker pada umumnya. Sirsak, misalnya, banyak pasien kanker mempercayai manfaat dari buah dan daunnya sebagai salah satu alternatif untuk mengobati kanker. Bahkan, beberapa sumber mengatakan daun sirsak bersifat seperti kemoterapi dan mempunyai kemampuan untuk membunuh sel-sel yang tumbuh abnormal, serta membiarkan sel-sel yang tumbuh normal.

Namun, setiap buah mengandung antioksidan dan vitamin C yang tinggi. Sejauh ini belum ada bukti riset ilmiah yang cukup kuat mengenai manfaat khasiat daun sirsak sebagai obat kanker. Dan, perlu ditekankan bahwa obat herbal sebaiknya hanya digunakan sebagai pelengkap atau komplementer, bukan sebagai pengganti obat-obatan kimia yang sudah ada. Sampai saat ini Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) baru memberikan sertifikat fitofarmaka kepada enam produk obat bahan alam.

Fitofarmaka adalah sediaan obat bahan alam yang telah dibuktikan keamanan dan khasiatnya secara ilmiah dengan uji praklinik dan uji klinik, bahan baku dan produk jadinya telah distandardisasi. Namun, kelompok obat fitofar maka tersebut belum ada yang dapat digunakan dalam bentuk in natura sebagai obat kanker.

“Kalaupun ada manfaatnya, masih memerlukan ekstraksi bahan aktifnya terlebih dahulu baru dapat diuji secara ilmiah,” tutur ahli hematologionkologi FKUI/RSCM, Dr dr Aru Wisaksono Sudoyo SpPD KHOM FACP di Jakarta, belum lama ini.

Dia mencontohkan obat antikanker sitostatika bernama paclitaxel yang berasal dari kulit pohon jenis pinus. Pengolahan obat tersebut memerlukan proses amat mahal dalam pemurniannya, yaitu sekitar USD10 juta, baru dapat digunakan dalam bentuk suntikan.

“Dan, pasien kanker tidak akan sembuh dengan hanya makan kulit pohon tersebut,” tegas Aru.
Meski begitu, dia mengakui Indonesia sebenarnya kaya akan tumbuh-tumbuhan yang berkhasiat obat dan “menanti” untuk ditemukan dan diolah.

Negara kita sudah lama disebut sebagai megacenter keanekaragaman hayati—memiliki kurang lebih 80.000 spesies tanaman. Dari sekitar 30.000 spesies tanaman berbunga, terdapat sekitar 9.600 spesies merupakan tanaman obat. Dan diketahui, sekitar 50% dari obat kanker yang tersedia sekarang ini memang berasal dari tanaman di hutan.

“Ada yang bilang sekitar 80 jenis pohon atau daun berpotensi sebagai obat kanker,” sebut Aru.
Namun, sekali lagi Aru mengingatkan bahwa obat herbal dapat digunakan sebagai terapi pendukung atau suportif terhadap pasien kanker, bukan pengganti obat sitostatik modern.

Sumber: (http://health.okezone.com/read/2012/12/12/484/731147/bantu-pengobatan-dengan-obat-herbal)

Iklan

Tinggalkan sebuah Komentar »

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: