Dr. SILAHUDDIN

BILA KONDISI GAWAT TERJADI DI RUMAH ANDA, BAGAIMANA PENANGANAN PERTAMANYA? (bag. 1) | 2 Maret 2013

Seri Gawat Darurat untuk Umum 1

bismillah1

Tidak ada dari kita yang ingin mengalami celaka. Atau mengalami hal yang membahayakan , tidak diri kita, tidak pula keluarga kita. Mungkin diantara kita seringkali  berdoa mudah-mudahan  dijauhkan dari keadaan tersebut.Tapi yang namanya celaka itu datangnya biasanya mendadak alias tiba-tiba sama sekali di luar kehendak kita.

Oleh karena itu, Anda yang tidak punya background MEDIS, saya pikir sangat perlu membekali diri dengan kemampuan praktis dalam menangani keadaan darurat tersebut.

Dalam kesempatan kali ini, saya ingin berbagi kepada Anda tentang bagaimana penganan pertama pada keadaan gawat dan darurat yang bisa saja terjadi dekat dengan kita atau bahkan di dalam rumah kita. Wal’iyyadzu billah…

 

YANG PALING PENTING

Mohon diingat selalu, dalam keadaan bagaimanapun dan apapun yang terjadi, boleh kita gugup, boleh kita panik, TAPI jangan LAMA-LAMA. Kepanikan kita membuat kita tidak bisa berfikir secara logis. Pun kita akan lupa dengan apa yang seharusnya kita lakukan. Jadi, kerahkan segenap kekuatan untuk bisa membuat kita jadi TENANG!

 

BANTUAN HIDUP DASAR (BHD)

Sebelum kita mengenal kasus-kasus kegawatan, sebaiknya kita mengenal dulu ketrampilan yang paling mendasar yang diperlukan untuk semua keadaan darurat, yakni apa yang biasa dikenal sebagai Bantuan Hidup dasar.

Apa itu Bantuan Hidup Dasar?

Sebuah upaya pertolongan yang kita lakukan pada keadaan gawat darurat sampai mendapatkan pertolongan medis yang selayaknya, dapat diartikan sebagai Bantuan Hidup Dasar. Bantuan yang kita berikan bukan bermaksud menggantikan pengobatan medis, akan tetapi bersifat sebagai pertolongan pertama pada korban.

Bantuan hidup dasar merupakan salah satu dari beberapa Mata Rantai Kehidupan (Chain of Survival) dalam memberikan pertolongan pada korban gawat darurat terkhusus pada mereka yang jatuh dalam keadaan henti jantung.

images (9)

Hal ini menjadi sangat penting karena hampir semua kecelakaan terjadi jauh dari jangkauan tenaga medis atau terjadi tidak di dekat pusat pelayanan kesehatan. Betul atau tidaknya, cepat atau tertundanya pertolongan dasar tersebut sangat mempengaruhi hasil akhir dari pengobatan medis yang diberikan oleh para tenaga medis.

Sebagai contoh:

  1. Ketika ada korban jatuh pingsan oleh karena jantungnya berhenti, ketika para penolong tidak langsung memberikan bantuan pijat jantung dan pemberian nafas buatan, dalam beberapa menit, kemungkinan besar nyawa korban tidak bisa diselamatkan.
  2. Ketika ada korban jatuh dari atap rumah dengan patah tulang belakang dan patah tulang leher, kemudian orang yang menolong tidak memperhatikan bagaimana dia harus menjaga tengkuk dan tulang punggung korban agar tetap stabil, maka kemungkinan besar korban tidak selamat sampai di rumah sakit atau jika bisa selamat, namun bisa terjadi kelumpuhan di salah satu atau kedua kaki!

Kapan dan Bagaimana Memulai BHD?

Bantuan hidup dasar dilakukan segera setelah terjadi sebuah kejadian yang gawat dan darurat. Menunda waktu pertolongan berarti mengurangi hasil yang diharapkan. Ketika terjadi sebuah kegawatan, maka kita harus mengikuti URUTAN langkah-langkahnya. JANGAN diloncati dan jangan dirubah urutannya!

 

LANGKAH – LANGKAH BHD

1.      Danger (Potensi Bahaya)

Sebelum melakukan pertolongan, dipastikan dulu seberapa aman kita melakukan pertolongan. Jangan melakukan pertolongan jika ada potensi bahaya yang mengancam penolong dan korban. Hindari menjadi korban kedua.

Jika aman, boleh dilakukan pertolongan di tempat kejadian. Jika tidak aman, korban dipindahkan ke tempat yang lebih aman atau disingkirkan potensi bahaya yang masih ada.

 images (10)

2.      Respons

Pada tahap ini, kita mencoba menilai secara cepat dan akurat apakah korban masih memberikan respon atau tidak terhadap rangsangan yang kita berikan. Lakukan dengan memberikan  goncangan dan teriakan “Bapak, Ibu, mas,…”

Jika korban memberikan verbal misalnya, “Ya.. “ atau “Aduh…” , maka kita biarkan dia di posisinya semula atau diposisikan pada POSISI MANTAP/PEMULIHAN.

 

 images (23)

 

Jika korbantidak memberikan respon, maka langsung menuju langkah selanjutnya.

3.      Aktifkan Sistem Darurat

Yakni minta bantuan orang di sekitar kita untuk menghubungi pertolongan medis/rumah sakit serta untuk membantu kita dalam memberikan pertolongan pada korban. Kemudian langsung masuk ke langkah berikutnya.

4.      Circulation (Cek nadi dan RJP)

Untuk mengecek nadi, kita letakkan 2 atau 3 jari kita kearah leher pada bagian trachea kemudian bergeser sedikit ke arah luar. Dengan sedikit ditekan lalu tunggu paling lama 10 detik. Jika ada denyut nadi, maka kita langsung melanjutkan ke Airway.

Jika tidak ada nadi, maka kita lakukan RESUSITASI JANTUNG PARU (RJP). Caranya:

  1. Tentukan titik pijat  yakni tentukan titik tengah jantung lalu bergeser ke bawah 2 jari dari arkus kosta (perbatasan tulang dada dengan perut)
  2. Letakkan ujung telapak salah satu tangan ke titik pijat, tangan yang lain menggenggam telapak tersebut.
  3. Posisi lengan tegak lurus dengan dada.
  4. Tekan dada sedalam 4-5 cm. dengan sendi pinggul sebagai engsel, bukan sendi bahu atau siku.
  5. Kecepatan pijatan 100 x permenit.
  6. Lakukan pijatan sebanyak 30 X, diikuti dengan 2x Pemberian nafas.

Setiap pijatan dada 30 x dan pemberian nafas buatan 2x disebut sebagai 1 siklus RJP.

  images (17)

 images (11)

Sebelum memberikan 2x nafas buatan, terlebih dahulu harus dilakukan langkah selanjutnya yakni Airway Control (kontrol jalan nafas) [langkah ke-5].

RJP dilakukan sebanyak 5 siklus sebelum kemudian dilakukan pengecekan nadi ulang. Jika tetap nadi tidak ada, dilanjutkan dengan 5 siklus RJP lagi. Terus demikian dilakukan berulang sampai pertolongan datang (datangnya tenaga medis atau defibrillator) atau korban sudah dinyatakan meninggal.

Jika setelah 5 siklus RJP kemudian nadi muncul, langkah selanjutnya adalah Airway Control (kontrol jalan nafas) [langkah ke-5].

images (5)

5.      Airway Control (Kontrol Jalan Napas)

Kontrol jalan napas berarti membebaskan jalan nafas dari sumbatan dan memelihara jalan napas tetap longgar. Korban yang tidak sadar seringkali terjadi jatuhnya pangkal lidah sehingga menghambat masuknya udara ke paru. Maka, jalan napas harus dibebaskan dari sumbatan pangkal lidah dengan 2 cara:

a.      Chin Lift Head Tilt

Yakni Mengangkat dagu dan mendorong atau menarik dahi ke belakang. Hal ini dilakukan pada korban yang tidak ada kecurigaan terjadinya patah tulang leher.

 unduhan (2)

b.      Jaw Thrust

Yakni menari rahang bawah kea rah belakang. Hal ini dilakukan pada korban yang dicurigai terjadi patah tulang leher.

images (20)

                Baru setelah jalan napas kita bebaskan, langkah selanjutnya tergantung pada 2 keadaan:

    1. Jika masih dalam satu rangkaian RJP, maka dilanjutkan langsung dengan pemberian nafas buatan sebanyak 2x.
    2. Jika tidak dalam rangkaian RJP, maka dilanjutkan dengan evaluasi pernafasan korban (langkah 6).

6.      Breathing (Pernafasan)

  • Ketika masih dalam rangkaian RJP, penilaian nafas tidak perlu dilakukan karena pada orang yang henti jantung, dia juga mengalami henti napas! Jadi, secepatnya dilakukan bantuan napas 2x lalu dilanjutkan dengan menyelesaikan 5 siklus RJP.
  • Tapi jika tidak dalam rangkaian RJP, dilakukan penilaian nafas dulu. Jika nafas adekuat, maka hanya dimonitoring lebih lanjut dengan secara berkala diperiksa nadi dan nafasnya. Jika nafas tidak adekuat atau bahkan tidaka ada, maka dilakukan bantuan nafas sebanyak 8 – 10 x permenit. Caranya bisa:

    – Dari mulut ke mulut

Penolong menutup hidung korban dengan tangan yang masih memegang kepala korban dengan ibu jari dan jari telunjuk,  sedangkan tangan yang lain membuka mulut korban untuk kemudian ditiupkan nafas ke dalam mulutnya.

images (19)

 images (16)

     –  Dari mulut ke hidung

Penolong menutup mulut korban dengan tangan yang masih memegang dagu korban dengan ibu jari dan jari telunjuk,  sedangkan tangan yang lain membuka hidung korban untuk kemudian ditiupkan nafas ke dalam hidungnya.

Pemberian nafas buatan dilakukan terus sampai datang pertolongan atau sampai korban tiba di tempat pelayanan kesehatan.

Mudah-mudahan bermanfaat untuk anda. Insya Allah bersambung ke bag 2 tentang kondisi-kondisi khusus kegawatdaruratan. Wallahu A’lam.

 

Iklan

2 Komentar »

  1. […] BILA KONDISI GAWAT TERJADI DI RUMAH ANDA, BAGAIMANA PENANGANAN PERTAMANYA? (bag. 1) […]

    Ping balik oleh BILA KONDISI GAWAT TERJADI DI RUMAH ANDA, BAGAIMANA PENANGANAN PERTAMANYA (bag. 2)? | dr. Silahuddin — 8 Maret 2013 @ 8:48 am

  2. You’ve probably seen the harlem shake trending on the web, so I’m just letting you know that we could help you drive more traffic by making your website do the harlem shake. Feel free to check out http://goo.gl/PbOnR if you’re interested.

    Komentar oleh harlem shake — 3 Maret 2013 @ 7:56 am


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: